Gado-Gado

November 23, 2006

Musim Duren Pun Tiba

Diarsipkan di bawah: Story — by auliahazza @ 10:29 am

Date posted : 1/9/2005

Ini musim duren betulan lho, bukan musim duren yang lain )

Bulan Desember, di pasar Ciputat sudah banyak pedagang berjualan duren … hmmmm baunya bisa tercium seantero pasar. Duren berbuah sekitar bulan November sampai dengan Januari. Bahkan bisa ada sebelum November dan setelah Februari.

Kepengen banget nich …

9 Januari 2005, kesampean juga makan duren … Ada orang yang jualan dipinggir jalan Pondok Petir Raya menuju rumah Ruri (adik). Beli 3 buah dengan total harga Rp. 10.000,- dengan ukuran sedang … lumayan.

Sorenya, saya makan duren. Dagingnya sedikit, ukurannya kecil tapi lumayanlah dari pada ga makan duren. Sebenarnya saya takut makan duren. Saya dilarang makan duren karena sakit maag. Duren bisa membuat lambung saya panas, kadar gas di lambung akan meningkat. Buktinya beberapa menit saya makan sudah sendawa, panas, dada saya kayak sakit sedikit. Supaya tidak terjadi yang tidak diinginkan dan tidak mau mendengar kalimat “Apa Bapak bilang …” saya minum obat maag yang diberi dokter Masril. Ande nyuruh saya minum norit tapi ga mau karena ga suka makan obat banyak-banyak. Saya sudah sendawa 4 kali … alhamdulillah.

Sampai pukul 7.16 malam status aman tapi deg-degan … kambuh ga yach …

Kalau diingat-ingat, aul ga pernah lagi ketemu duren seperti di kebun keluarga bapak – Silungkang – bagus banget, dagingnya gemuk, kuning, wangi, gede, makan 1 biji puas dech. Terbayar dengan perjalanan menuju kebun keluarga bapak yang susah, mendaki, jalan licin, lewati jurang, jalan setapak, pas nyampe dikejauhan kita disambut harimau Sumatera yang sudah jarang populasinya, juga monyet – ga tau jenisnya apa -. Pokoknya ngos-ngosan … benar-benar haiking. 1 buah duren habis sama aul.

Benar-benar enak dech … duren di kebun keluarga bapak.

Tsunami Dalam Sejarah

Diarsipkan di bawah: Artikel — by auliahazza @ 10:23 am

Date posted : 1/8/2005

Selama bertahun-tahun ribuan orang tewas akibat tsunami …

Baca berita lebih lanjut, klik disini

Meletusnya Krakatau pernah menimbulkan tsunami yang sangat tinggi …

Baca berita lebih lanjut, klik disini …

PERTEMANAN DALAM ISLAM

Diarsipkan di bawah: Artikel — by auliahazza @ 10:07 am

Gundolo Sosro
Source : Buletin Al Sofwah
Buletin Online Pekan 4 Rajab 1424 H

Secara umum, orang merasa senang dengan banyak teman. Manusia memang tidak bisa hidup sendiri, sehingga disebut sebagai makhluk sosial. Tetapi itu bukan berarti, seseorang boleh semaunya bergaul dengan sembarang orang menurut selera nafsunya. Sebab, teman adalah personifikasi diri. Manusia selalu memilih teman yang mirip dengannya dalam hobi, kecenderungan, pandangan, pemikiran. Karena itu, Islam memberi batasan-batasan yang jelas dalam soal pertemanan. Memilih Teman Yang Baik

Teman memiliki pengaruh yang besar sekali. Rasulullah bersabda, “Seseorang itu tergantung agama temannya. Maka hendaknya salah seorang dari kalian melihat siapa temannya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi). Makna hadits di atas adalah seseorang akan berbicara dan ber-perilaku seperti kebiasaan kawannya. Karena itu beliau Shalallaahu alaihi wasalam mengingatkan agar kita cermat dalam memilih teman. Kita harus kenali kualitas beragama dan akhlak kawan kita. Bila ia seorang yang shalih, ia boleh kita temani. Sebaliknya, bila ia seorang yang buruk akhlaknya dan suka melanggar ajaran agama, kita harus menjauhinya. Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, “Jangan berteman, kecuali dengan orang mukmin, dan jangan memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa.” (HR. Ahmad dihasankan oleh al-Albani). Termasuk dalam larangan di atas adalah berteman dengan pelaku dosa-dosa besar dan ahli maksiat, lebih-lebih berteman dengan orang-orang kafir dan munafik.

Khathabi berkata, “Yang dimaksud dengan jangan memakan makananmu, kecuali orang yang bertakwa adalah dengan cara mengundang mereka dalam suatu jamuan makan. Sebab jamuan makan bisa melahirkan rasa kasih sayang dan cinta di antara yang hadir”. Adapun makanan yang memang dibutuhkan oleh mereka, maka tidak apa-apa diberikan. Allah berfirman, artinya, “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.” (QS. Al-Insan: 8 ). Dan yang ditawan bisa saja adalah orang-orang kafir.

Demikian juga dalam pergaulan yang sifatnya umum seperti bertetangga, jual beli dan sebagainya, maka hukumnya masuk dalam hukum mua-malah, di mana kita boleh bermuamalah dengan siapa saja, muslim maupun non muslim.

BELAJAR DARI AWAN

Diarsipkan di bawah: Artikel — by auliahazza @ 9:55 am

Hari itu satu pekan panjang yang penuh dengan kesibukan mengajar keliling negeri telah kulewati sekali lagi. Seperti biasa aku ingin menikmati situasi santai dalam penerbangan ulang, membaca yang ringan-ringan, bahkan memejamkan mata beberapa menit bilamana sempat. Kendatipun demikian, aku mencoba menerima apa pun yang akan terjadi.

Maka biasanya aku mengucapkan doa pendek berikut: Siapa pun yang Kautakdirkan duduk di sebelahku, biarlah ia seperti apa adanya, dan bantulah aku agar dapat menerima apa pun yang tersedia bagiku.

Pada hari yang khusus ini, ketika aku masuk ke dalam pesawat, ternyata seorang anak kecil, sekitar delapan tahun, duduk pada kursi dekat jendela disebelahku. Aku menyukai anak-anak. Namun, aku sedang merasa lelah. Naluri pertamaku adalah, ‘Apa boleh buat, aku tak tahu nasibku kali ini’. Dengan berusaha bersikap ramah, aku menyapanya dan mengajaknya berkenalan. Ia menyebutkan namanya, Bradley. Kami langsung mengobrol dan, hanya dalam beberapa menit, ia menaruh kepercayaan kepadaku, dengan berkata, “Ini pertama kali saya naik pesawat. Saya agak takut.”

Ia bercerita kepadaku bahwa ia dan keluarganya baru menjenguk sepupu-sepupunya, dan ia diminta tinggal lebih lama sedangkan orangtuanya pulang terlebih dahulu. Kini ia pulang sendirian, dengan pesawat terbang.

“Naik pesawat itu keciiil,” kataku, berusaha menumbuhkan keyakinannya. “Mungkin dapat dianggap salah satu yang paling mudah di antara yang pernah kaulakukan.” Aku diam sejenak, untuk berpikir, dan kemudian aku bertanya kepadanya, “Pernahkah kau naik roller coaster?”
“Saya senang naik roller coaster!”
“Pernahkah kau menaikinya tanpa berpegangan?”
“Oh, ya. Saya seneng sekali.” Ia tertawa. Sementara aku berpura-pura ketakutan.
“Pernahkah kau naik di depan?” tanyaku lagi dengan wajah pura-pura merasa ngeri.
“Ya. Saya selalu berusaha mendapatkan tempat duduk paling depan!”

“Dan kau tidak merasa takut?”
Ia menggelengkan kepalanya, tampaknya ia kini telah merasa berhasil mengimbangi aku.

“Sesungguhnyalah, penerbangan ini tidak seberapa dibanding naik roller coaster. Aku tidak berani naik roller coaster, tapi aku tidak takut sama sekali bila naik pesawat terbang.”

Seulas senyum mulai tampak pada wajahnya, “Betulkah itu?” Aku dapat melihat bahwa ia mulai berpikir bahwa mungkin ia memang pemberani.

Pesawat mulai ditarik menuju ke ujung landasan. Dan ketika akhirnya pesawat itu meluncur naik, ia memandang ke luar jendela dan mulai bercerita dengan sangat bersemangat tentang segala yang dialaminya. Ia mengomentari bentuk-bentuk awan yang dilihatnya, dan gambar-gambar yang seolah-olah telah dilukis di angkasa. “Awan yang ini seperti kupu-kupu, dan yang itu kelihatan seperti seekor kuda!”

Tiba-tiba, aku juga melihat melalui mata seorang anak usia delapan tahun. Rasanya seolah-olah aku baru pertama kali itu terbang.

Belakangan Bradley bertanya tentang pekerjaanku. Aku bercerita tentang pelatihan yang kuselenggarakan, dan mengatakan bahwa aku juga membintangi iklan untuk radio dan televisi.

Matanya langsung bersinar. “Saya dan adik saya pernah menjadi bintang iklan televisi.”

“Oh, ya? Bagaimana rasanya?”

Ia bercerita bahwa pengalaman itu sangat mengesankan.

Kemudian ia berkata bahwa ia perlu ke kamar kecil.

Aku berdiri agar ia dapat keluar ke gang. Saat itulah aku melihat alat penguat pada kedua kakinya. Bradley beringsut-ingsut menuju ke kamar kecil di belakang.

Ketika ia duduk kembali, ia menerangkan, “Saya menderita distrofi otot. Adik perempuan saya juga – ia bahkan harus memakai kursi roda. Itu sebabnya kami menjadi bintang iklan. Kami dijadikan contoh untuk anak-anak yang menderita
distrofi otot.”

Waktu pesawat mulai turun, ia memandang kepadaku, tersenyum, dan bicara dengan nada yang agak-agak malu, “Tahukah Anda, saya betul-betul khawatir tentang siapa yang akan duduk di sebelah saya di pesawat. Saya takut ia orang yang ketus, yang tidak mau bicara dengan saya. Saya senang bisa duduk bersebelahan dengan Anda.”

Ketika mengenang seluruh pengalaman itu pada malam harinya, aku diingatkan tentang untungnya bersikap terbuka. Setelah sepekan penuh menjadi pengajar, begitu selesai aku justru menjadi siswa.

Sekarang setiap kali aku merasa suntuk – dan itu cukup sering – aku memandang ke luar jendela dan mencoba menebak bentuk awan yang terlukis diangkasa. Dan aku teringat dengan Bradley, anak istimewa yang mengajariku pelajaran itu.

Sumber: Joyce A. Harvey – Chicken Soup for the Unsinkable Soul
Kiriman : o_tea

November 22, 2006

Ga Suka Makan Sayur ???

Diarsipkan di bawah: Story — by auliahazza @ 10:54 am

“Ih .. ga enak banget … apalagi kalau setiap hari makan sayur ….”.

Setiap makan siang, ibuku sudah menyediakan 3 mangkuk kecil yang isinya daun-daun hijau untuk 3 anaknya yang masih SD. Biasanya daun katuk, bayam. Daun katuk dan bayam suka ditambahin jagung manis dibuat sayur bening, ditumis dengan bawang merah, bawang putih dan daun bawang.

Ketiga anaknya sebenarnya suka sayur tapi kalau setiap hari .. ga janji dech. Apalagi kalau ada makanan yang paling disuka atau makanan yang tidak maching. Kalau makanan yang disuka dan tak mau dicampur dengan sayur biasanya ayam goreng, ayam balado, kentang balado, gulai ayam, rendang. Yang ga maching, biasanya gulai dengan sayur bayam/katuk … ga maching kan … ? sama-sama berkuah tapi berbeda tekstur.

Kalau kita tidak mau makan sayur dicampur dengan lauk yang lain, biasanya disuruh dimakan sesudah makan besar … kenyang … kenyang dech kita. Terpaksa dech dimakan juga sayurnya, kalau ga mau kita harus tetap duduk dimeja makan sambil dipelotit sampai sayurnya habis. Kalau ibu lagi baik, kita boleh nyicil makannya untuk nanti sore. Tapi itu jarang banget lagipula kalau dimakan sore hari sudah ga enak. Pernah saya buang dengan diam-diam.

Paling benci sayur katuk … keras. Mau bilang ga berani. Kata ibu kalau masak sayur jangan sampai layu nanti vitaminnya hilang. Dirumah saya yang di Tebet subur banget sama katuk, ada yang tinggi, ada yang berbunga dan berbuah. Kalau lihat “dia”, pengen dech rasanya ngebuangin. Sering sekali bilang dalam hati “kapan yach … kamu mati, kapan yach kamu kena ulat, kapan yach kamu layu, tapi kamu ga pernah tuh, selalu subur, sehat”

Tahun 1988 kita pindah rumah ke Bekasi, ibu cuma bawa beberapa batang katuk dan kami mengucapkan alhamdulillah sudah ga makan sayur katuk dan berharap semoga ditanah yang baru katuk ga subur. Memang ditempat yang baru katuk ga subur malah ga numbuh dan beranak pinak. Lama-lama mati. Ibu sudah jarang menjatahkan semangkuk sayur, kata ibu “Kalian sudah besar, yang menentukan badan sehat, sakit adalah kalian sendiri, ibu hanya menyediakan saja”. Tapi sering juga sich ibu ngomel alias memberi nasihat makan sayur.

SMA kelas 2, warna sayurnya berubah menjadi orange, bau umbi, dibuat juice. Mula-mula sich ga enak, eneg … tapi karena kepentingan saya karena mengalami gangguan dimata. Mata saya tidak bisa melihat jarak jauh, harus pakai kacamata. Aduh hidung saya keberatan, terganggu. Setiap hari saya minum segelas gede juice wortel … setiap hari … lama kelamaan saya biasa dan rasanya enak tapi juga membuat kulit saya menjadi kuning. Kurang lebih 3 bulan, saya melepaskan kacamata … wah terang lho … saya sudah ga mau pake lagi, lagipula kasihan sama kacamatanya sering kecelakaan. Suka jatuh, suka saya dudukin, untung ga pecah karena dibuat dari sejenis plastik. Tapi minum juice wortelnya ga pernah lepas, sama ibu saya suka ditambihin susu bubuk. Sampai sekarang saya suka banget sama wortel dalam bentuk campuran apapun. Dan saya sudah tidak pake kacamata, min saya dari dulu tetap –1/4 untuk semua mata. Ga tau yach kenapa ga berubah-rubah.

Sudah lama kita ga makan sayur katuk, ibu membelinya, dengan segera saya bilang “saya saja yang masak”. Ibu mengizinkannya. Saya memasaknya sama seperti cara ibu tapi masaknya agak lebih lama agar daunnya tidak keras waktu dimakan. Kami akhirnya menyukainya sampai sekarang.

Jangan Sekali-kali Bertamu Ke Rumah Orang Kaya

Diarsipkan di bawah: Story — by auliahazza @ 9:38 am

Date posted : 12/3/2004

Seorang pria (T) berkunjung ke rumah seorang jutawan yang sangat kaya raya. Sembari menunggu sang tuan rumah, sang pembantu (P) menawarinya minum.

P : “Tuan mau minum apa, teh, kopi, susu atau soda?”
T : “Teh saja.”
P : “Teh hijau, teh madu, teh ceylon, teh celup atau teh seduh?”
T : “Teh ceylon.”
P : “Yang hitam atau bening?”
T : “Bening.”
P : “Dengan susu, krim atau madu?”
T : “Dengan susu.”
P : “Susu sapi, susu unta atau susu kuda?”
T : “Susu sapi saja.”
P : “Sapi dari Freezeland atau Afrika?”
T : “Hmm yang pertama saja.”
P : “Dengan gula atau tanpa gula?”
T : “dengan gula.”
P : “Gula pasir atau gula batu?”
T : “Gula pasir.”
P : “Gula tebu atau gula pemanis?”
T : “Arghhhhhhhhh, berikan aku air mineral saja.”
P : “Air mineral dingin atau biasa?”
T : “Yang dingin.”
P : “Yang tawar atau yang rasa buah?”
T : ” Sudahlah, aku tidak jadi minum deh.”

Sumber : Aris ga pake H

Aku Akan Membopongmu Setiap Pagi

Diarsipkan di bawah: Artikel — by auliahazza @ 9:31 am

Pada hari pernikahanku,aku membopong istriku. Mobil pengantin berhenti didepan flat kami yang cuma berkamar satu. Sahabat-sahabatku menyuruhku untuk membopongnya begitu keluar dari mobil. Jadi kubopong ia memasuki rumah kami. Ia kelihatan malu-malu. Aku adalah seorang pengantin pria yang sangat bahagia.

Ini adalah kejadian 10 tahun yg lalu. Hari-hari selanjutnya berlalu demikian simpel seperti secangkir air bening:

Kami mempunyai seorang anak, saya terjun ke dunia usaha dan berusaha untuk menghasilkan banyak uang. Begitu kemakmuran meningkat, jalinan kasih diantara kami pun semakin surut.

Ia adalah pegawai sipil. Setiap pagi kami berangkat kerja bersama-sama dan sampai dirumah juga pada waktu yg bersamaan. Anak kami sedang belajar di luar negeri. Perkawinan kami kelihatan bahagia. Tapi ketenangan hidup berubah dipengaruhi oleh perubahan yg tidak kusangka-sangka.

Dew hadir dalam kehidupanku.

Waktu itu adalah hari yg cerah. Aku berdiri di balkon. Dengan Dew yang sedang merangkulku. Hatiku sekali lagi terbenam dalam aliran cintanya. Ini adalah apartment yg kubelikan untuknya. Dew berkata, “kamu adalah jenis pria terbaik yg menarik para gadis”. Kata-katanya tiba-tiba mengingatkanku pada istriku. Ketika kami baru menikah,istriku pernah berkata, “Pria sepertimu, begitu sukses, akan menjadi sangat menarik bagi para gadis”. Berpikir tentang ini, Aku menjadi ragu-ragu. Aku tahu kalo aku telah menghianati istriku. Tapi aku tidak sanggup menghentikannya. Aku melepaskan tangan Dew dan berkata, “kamu harus pergi membeli beberapa perabot, O.K.?. Aku ada sedikit urusan dikantor” Kelihatan ia jadi tidak senang karena aku telah berjanji menemaninya. Pada saat tersebut, ide perceraian menjadi semakin jelas dipikirankan walaupun kelihatan tidak mungkin. Bagaimanapun,aku merasa sangat sulit untuk membicarakan hal ini pada istriku. Walau bagaimanapun ku jelaskan, ia pasti akan sangat terluka. Sejujurnya,ia adalah seorang istri yg baik. Setiap malam ia sibuk menyiapkan makan malam. Aku duduk santai didepan TV. Makan malam segera tersedia. Lalu kami akan menonton TV sama2. Atau,Aku akan menghidupkan komputer,membayangkan tubuh Dew. Ini adalah hiburan bagiku.

Suatu hari aku berbicara dalam guyon, “seandainya kita bercerai, apa yang akan kau lakukan?”

Ia menatap padaku selama beberapa detik tanpa bersuara. Kenyataannya ia percaya bahwa perceraian adalah sesuatu yg sangat jauh dari ia. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ia akan menghadapi kenyataan jika tahu bahwa aku serius. ketika istriku mengunjungi kantorku, Dew baru saja keluar dari ruanganku. Hampir seluruh staff menatap istriku dengan mata penuh simpati dan berusaha untuk menyembunyikan segala sesuatu selama berbicara dengan ia. Ia kelihatan sedikit kecurigaan Ia berusaha tersenyum pada bawahan2ku. Tapi aku membaca ada kelukaan di matanya.

Sekali lagi, Dew berkata padaku, “He Ning, ceraikan ia, O.K.? Lalu kita akan hidup bersama.”Aku mengangguk. Aku tahu aku tidak boleh ragu-ragu lagi. Ketika malam itu istriku menyiapkan makan malam, ku pegang tangannya, “Ada sesuatu yg harus kukatakan”
Ia duduk diam dan makan tanpa bersuara. Sekali lagi aku melihat ada luka dimatanya. Tiba-tiba aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi ia tahu kalo aku terus berpikir. “aku ingin bercerai”, ku ungkapkan topik ini dengan serius tapi tenang. Ia seperti tidak terpengaruh oleh kata-kataku, tapi ia bertanya secara lembut, “kenapa?”

“Aku serius”. Aku menghindari pertanyaannya. Jawaban ini membuat ia sangat marah.Ia melemparkan sumpit dan berteriak kepadaku,”Kamu bukan laki2!”.

Pada malam itu, kami sekali saling membisu. Ia sedang menangis. Aku tahu kalau ia ingin tahu apa yang telah terjadi dengan perkawinan kami. Tapi aku tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan sebab hatiku telah dibawa pergi oleh Dew. Dengan perasaan yang amat bersalah, Aku menuliskan surai perceraian dimana istriku memperoleh rumah, mobil dan 30% saham dari perusahaanku. Ia memandangnya sekilas dan mengoyaknya jadi beberapa bagian. Aku merasakan sakit dalam hati. Wanita yg telah 10tahun hidup bersamaku sekarang menjadi seorang yang asing dalam hidupku. Tapi aku tidak bisa mengembalikan apa yg telah kuucapkan. Akhirnya ia menangis dengan keras didepanku,dimana hal tersebut tidak pernah kulihat sebelumnya. Bagiku, tangisannya merupakan suatu pembebasan untukku. Ide perceraian telah menghantuiku dalam beberapa minggu ini dan sekarang sungguh2 telah terjadi. Pada larut malam,aku kembali ke rumah setelah menemui klienku. Aku melihat ia sedang menulis sesuatu. Karena capek aku segera ketiduran .Ketika aku terbangun tengah malam, aku melihat ia masih menulis. Aku tertidur kembali. Ia menuliskan syarat-syarat dari perceraiannya : ia tidak menginginkan apapun dariku,tapi aku harus memberikan waktu sebulan sebelum menceraikannya, dan dalam waktu sebulan itu kami harus hidup bersama seperti biasanya. Alasannya sangat sederhana: Anak kami akan segera menyelesaikkan pendidikannya dan liburannya adalah sebulan lagi dan ia tidak ingin anak kami melihat kehancuran rumah tangga kami. Ia menyerahkan persyaratan tersebut dan bertanya, “He Ning, apakah kamu masih ingat bagaimana aku memasuki rumah kita ketika pada hari pernikahan kita? Pertanyaan ini tiba-tiba mengembalikan beberapa kenangan indah kepadaku. Aku mengangguk dan mengiyakan. “Kamu membopongku dilenganmu”, katanya, “jadi aku punya sebuah permintaan, yaitu kamu akan tetap membopongkuku pada waktu perceraian kita. Dari sekarang sampai akhir bulan ini, setiap pagi kamu harus membopongku keluar dari kamar tidur ke pintu”. Aku menerima dengan senyum. Aku tahu ia merindukan beberapa kenangan indah yg telah berlalu dan berharap perkawinannya diakhiri dengan suasana romantis.

Aku memberitahukan Dew soal syarat-syarat perceraian dari istriku. Ia tertawa keras dan berpikir itu tidak ada gunanya. “Bagaimanapun trik yang ia lakukan,ia harus menghadapi hasil dari perceraian ini”, ia mencemooh. Kata2nya membuatku merasa tidak enak.

Istriku dan aku tidak mengadakan kontak badan lagi sejak kukatakan perceraian itu. kami saling menganggap orang asing. Jadi ketika aku membopongnya dihari pertama, kami kelihatan salah tingkah. Anak kami menepuk punggung kami,”wah, papa membopong mama,mesra sekali” Kata-katanya membuatku merasa sakit. Dari kamar tidur ke ruang duduk, lalu ke pintu, aku berjalan 10 meter dengan ia dalam lenganku. Ia memejamkan mata dan berkata dengan lembut, “mari kita mulai hari ini, jangan memberitahukan pada anak kita”. Aku mengangguk, merasa sedikit bimbang. Aku melepaskan ia di pintu. Ia pergi menunggu bus, dan aku pergi ke kantor.

Pada hari kedua, bagi kami terasa lebih mudah. Ia merebah di dadaku, Kami begitu dekat sampai-sampai aku bisa mencium wangi dibajunya. Aku menyadari bahwa aku telah sangat lama tidak melihat dengan mesra wanita ini. Aku melihat bahwa ia tidak muda lagi.beberapa kerut tampak diwajahnya.

Pada hari ketiga, ia berbisik padaku, “kebun diluar sedang dibongkar. Hati-hati kalau kamu lewat sana”.

Hari keempat, ketika aku membangunkannya, aku merasa kalau kami masih mesra seperti sepasang suami istri dan aku masih membopong kekasihku dilenganku. Bayangan Dew menjadi samar. Pada hari kelima dan enam, ia masih mengingatkan aku beberapa hal, seperti, dimana ia telah menyimpan baju-bajuku yang telah ia setrika, aku harus hati-hati saat memasak, dll. Aku mengangguk. Perasaan kedekatan terasa semakin erat. Aku tidak memberitahu Dew tentang ini. Aku merasa begitu ringan membopongnya. Berharap setiap hari pergi ke kantor bisa membuatku semakin kuat. Aku berkata padanya, “kelihatannya tidaklah sulit membopongmu sekarang”

Ia sedang mencoba pakaiannya, aku sedang menunggu untuk membopongnya keluar. Ia berusaha mencoba beberapa tapi tidak bisa menemukan yang cocok. Lalu ia melihat, “semua pakaianku kebesaran”. Aku tersenyum. Tapi tiba-tiba aku menyadarinya sebab ia semakin kurus itu sebabnya aku bisa membopongnya dengan ringan bukan disebabkan aku semakin kuat. Aku tahu ia mengubur semua kesedihannya dalam hati. Sekali lagi, aku merasakan perasaan sakit

Tanpa sadar ku sentuh kepalanya. Anak kami masuk pada saat tersebut. “Pa, sudah waktunya membopong mama keluar” Baginya, melihat papanya sedang membopong mamanya keluar menjadi bagian yang penting. Ia memberikan isyarat agar anak kami mendekatinya dan merangkulnya dengan erat. Aku membalikkan wajah sebab aku takut aku akan berubah pikiran pada detik terakhir. Aku menyanggah ia dilenganku, berjalan dari kamar tidur, melewati ruang duduk ke teras. Tangannya memegangku secara lembut dan alami. Aku menyanggah badannya dengan kuat seperti kami kembali ke hari pernikahan kami. Tapi ia kelihatan agak pucat dan kurus, membuatku sedih. Pada hari terakhir,ketika aku membopongnya dilenganku, aku melangkah dengan berat. Anak kami telah kembali ke sekolah. ia berkata,”sesungguhnya aku berharap kamu akan membopongku sampai kita tua” Aku memeluknya dengan kuat dan berkata “antara kita saling tidak menyadari bahwa kehidupan kita begitu mesra”. Aku melompat turun dari mobil tanpa sempat menguncinya. Aku takut keterlambatan akan membuat pikiranku berubah. Aku menaiki tangga. Dew membuka pintu. Aku berkata padanya, “Maaf Dew, Aku tidak ingin bercerai. Aku serius”. Ia melihat kepadaku, kaget. Ia menyentuh dahiku.”Kamu tidak demam”. Kutepiskan tanganya dari dahiku”maaf, Dew,Aku cuma bisa bilang maaf padamu, Aku tidak ingin bercerai. Kehidupan rumah tanggaku membosankan disebabkan ia dan aku tidak bisa merasakan nilai2 dari kehidupan, bukan disebabkan kami tidak saling mencintai lagi. Sekarang aku mengerti sejak aku membopongnya masuk ke rumahku, ia telah melahirkan anakku. Aku akan menjaganya sampai tua. Jadi aku minta maaf padamu” Dew tiba-tiba seperti tersadar. Ia memberikan tamparan keras kepadaku dan menutup pintu dengan kencang dan tangisannya meledak. Aku menuruni tangga dan pergi ke kantor Dalam perjalanan aku melewati sebuah toko bunga, ku pesan sebuah buket bunga kesayangan istriku. Penjual bertanya apa yg mesti ia tulis dalam kartu ucapan ? Aku tersenyum, dan menulis “Aku akan membopongmu setiap pagi sampai kita tua”

Dari : Yaya

Kadaluwarsa ELPIJI

Diarsipkan di bawah: Artikel — by auliahazza @ 9:25 am

Date posted : 12/9/2004

PERTAMINA Aviation
PT PERTAMINA (PERSERO)
Head Office 12th Floor
Jl. Medan Merdeka Timur 1A Jakarta 10110
Phone : 021 3815547
Fax : 021 3848934

PERTAMINA selaku produsen LPG dengan brand ELPIJI mengemas produknya dalam tabung yang memenuhi aspek safety yang sangat ketat dengan mengacu pada standar-standar tertentu.

Untuk masalah kadaluarsa, tabung ELPIJI memiliki umur pakai minimal 20 tahun. Setiap 5 tahun sekali tabung tersebut dilakukan uji ulang retest tabung) dan repaint (cat ulang) dan setiap 2 tahun sekali dilakukan repaint (cat ulang). Sehingga setelah umur 20 tahun, meskipun masih memenuhi syarat safety pada saat retest, tabung tersebut tetap saja dihancurkan. Tanggal kadaluarsa tabung dapat dilihat pada gambar 119 1934 yang berada sisi tabung. Tanda 10 – 07 berarti tabung akan dilakukan retest pada Oktober 2007. Untuk lebih lengkapnya, pada tabung ELPIJI diberikan tanda dengan keterangan sebagai berikut :

Ket. Utk gambar 119_1933:
Di bagian belakang hand guard, ada beberapa istilah:
WC 26.2 L – water content, artinya kalo diisi air, bakalan sebanyak 26.2 L
TW 15.2 kg – tare weight, berat tabung kosong

“Tanda lingkaran dan 07-2001 – lulus uji oleh Depnaker pada bulan Juli 2001 dan kan dilakukan retest pada Juli 2006″

TP 31 kg/cm2: total pressure isi tabung, 31 kg/cm2
PR 11 kg: kalo diisi propane saja, muatnya 11 kg
BU 13 kg: kalo diisi butane saja, muatnya 13 kg
NB: Elpiji adalah campuran propane dan butane (PR & BU)

Apabila anda selaku konsumen mendapati tabung yang telah melewati masa
retest (tanda pada sisi tabung Gb. 119 1934) maka jangan diterima, dan pada banyak konsumen mengeluhkan menerima tabung yang banyak berkarat dan kondisinya sangat kotor terlihat parah, maka apabila belum melewati masa retest tabung tersebut TETAP AMAN DIGUNAKAN. Namun, KONSUMEN TETAP MEMILIKI HAK UNTUK MENOLAK apabila merasa tidak yakin. Apabila telah terlanjur, tukarkanlah di AGEN RESMI LPG terdekat.

Saat ini Pertamina selaku pemegang brand ELPIJI terus berusaha mengadakan pembenahan pelayanan meskipun harga jual ke konsumen belum
mencapai keekonomian (merugi).

Semoga bermanfaat.

Muhammad Yasir A
Marketing and Trading Directorate
Business Development
Domestic Gas – PT. PERTAMINA (Persero)

12th floor PERTAMINA Head Office
ph. (021) 3815522 fax (021) 3846943

Atas Nama Alloh

Diarsipkan di bawah: Story — by auliahazza @ 9:19 am

Beberapa hari yang lalu sekitar jam 4-an sore, petir/geledek terdengar dari jauh. Walaupun masih jauh, suaranya sudah menyeramkan. Saat itu, keponakan saya belum mandi. Agak susah menyuruhnya mandi. Biasanya saya tidak peduli, apakah dia sudah mandi atau belum. ‘kan saya tidak tidur sekamar … Tapi entahlah kenapa saya tiba-tiba menyuruhnya mandi. “Ja, mandi gih, sebentar lagi Alloh datang …”. Dengan segera Riza mengajak mamanya mandi tapi mamanya bilang “Ntar aja …”.

Agak lama, petir masih saling bersahutan. Saya ulangi lagi “Ja, mandi gih, kalau Alloh datang … Riza masih bau .. marah lho …”.
“Kata mama entar aja”
“Iya … kalau Alloh datang, Riza sudah wangi … kan Alloh senang donk”
“Ma … mandi yuk …”
Dengan malas, mamanya bangun dari tempat duduk
“Ayo mandi …”

Setelah selesai mandi, dia duduk disofa, badannya masih berselempang handuk.
“Ja, pake baju gi dech …, denger tuh Alloh tambah deket”
“Ma … cepetan …”
Ibunya datang dengan membawa baju, celana panjang, celana dalam, bedak dan sisir. Setelah selesai semua tiba-tiba petir datang lagi dan dia berdoa “Ya Alloh, belhenti petilnya, ija takut”
Ha … ha …. geli saya
Dan datanglah hujan.
“Nah, Riza, Alloh sudah datang, hujan, Alloh senang Riza sudah rapi dan wangi”

Riza, nama keponakanku, kurang lebih umur 2-3 tahun, takut sekali dengan namanya “Alloh”. Dia terlalu lincah, banyak gerak dan terlalu banyak bicara alias cerewet. Saya tidak tahu mulai dari siapa yang mempergunakan atas nama “Alloh” supaya dia bisa diam. Seingat saya, kalau Adzan Magrib datang, dia akan duduk manis, mendengar dengan hikmat. Lama-kelamaan dia ketakutan. Ngumpet dibalik punggung salah satu anggota keluarga. Pas dia nakal, ada Adzan Magrib di TV, kami bilang “Alloh mau ngomong … Alloh datang, Riza diam …”. Suatu ketika, dia meletakkan jari telunjuknya dimulut agar semua diam. Dia bilang “Alloh mau ngomong …”

Sekarangnya umurnya 4 ½ tahun. Senjata andalan kita sekarang adalah petir. Alloh sudah pindah objek.

Kami pindah ruangan.. ke dapur, petir datang lagi … aku kaget … Riza bilang “Uwo takut yach … Alloh kan sayang sama Uwo … Alloh sayang banget sama Uwo”
“Iya, Alloh sayang banget sama Uwo”, kataku. Memang, Alloh terlalu sayang … Senyumku getir

Keesokan harinya, petir, hujan, mendung sudah selesai sebelum sore, Alloh sudah pergi. Saya tidak bisa “mengancamnya” untuk segera mandi. Nenek, kakek dan mamanya tidak bisa menyuruhnya mandi.
“Ija ga mau mandi …”
“Ija ga mau mandi …”

Yaaaa .. Alloh datangnya kecepatan sich …
Rizanya ga mandi dech sampai dia bobo.

Uwo : bibi

Foto Bersama Dengan Aa Gym

Diarsipkan di bawah: Photo — by auliahazza @ 9:17 am

Foto dirumah Aa Gym, kami nginap di cottage. Bagus dan bersih banget. Dingin … brrrrr

Halaman Berikutnya »

Didukung oleh WordPress.com