Gado-Gado

November 23, 2006

Musim Duren Pun Tiba

Diarsipkan di bawah: Story — by auliahazza @ 10:29 am

Date posted : 1/9/2005

Ini musim duren betulan lho, bukan musim duren yang lain )

Bulan Desember, di pasar Ciputat sudah banyak pedagang berjualan duren … hmmmm baunya bisa tercium seantero pasar. Duren berbuah sekitar bulan November sampai dengan Januari. Bahkan bisa ada sebelum November dan setelah Februari.

Kepengen banget nich …

9 Januari 2005, kesampean juga makan duren … Ada orang yang jualan dipinggir jalan Pondok Petir Raya menuju rumah Ruri (adik). Beli 3 buah dengan total harga Rp. 10.000,- dengan ukuran sedang … lumayan.

Sorenya, saya makan duren. Dagingnya sedikit, ukurannya kecil tapi lumayanlah dari pada ga makan duren. Sebenarnya saya takut makan duren. Saya dilarang makan duren karena sakit maag. Duren bisa membuat lambung saya panas, kadar gas di lambung akan meningkat. Buktinya beberapa menit saya makan sudah sendawa, panas, dada saya kayak sakit sedikit. Supaya tidak terjadi yang tidak diinginkan dan tidak mau mendengar kalimat “Apa Bapak bilang …” saya minum obat maag yang diberi dokter Masril. Ande nyuruh saya minum norit tapi ga mau karena ga suka makan obat banyak-banyak. Saya sudah sendawa 4 kali … alhamdulillah.

Sampai pukul 7.16 malam status aman tapi deg-degan … kambuh ga yach …

Kalau diingat-ingat, aul ga pernah lagi ketemu duren seperti di kebun keluarga bapak – Silungkang – bagus banget, dagingnya gemuk, kuning, wangi, gede, makan 1 biji puas dech. Terbayar dengan perjalanan menuju kebun keluarga bapak yang susah, mendaki, jalan licin, lewati jurang, jalan setapak, pas nyampe dikejauhan kita disambut harimau Sumatera yang sudah jarang populasinya, juga monyet – ga tau jenisnya apa -. Pokoknya ngos-ngosan … benar-benar haiking. 1 buah duren habis sama aul.

Benar-benar enak dech … duren di kebun keluarga bapak.

Tsunami Dalam Sejarah

Diarsipkan di bawah: Artikel — by auliahazza @ 10:23 am

Date posted : 1/8/2005

Selama bertahun-tahun ribuan orang tewas akibat tsunami …

Baca berita lebih lanjut, klik disini

Meletusnya Krakatau pernah menimbulkan tsunami yang sangat tinggi …

Baca berita lebih lanjut, klik disini …

PERTEMANAN DALAM ISLAM

Diarsipkan di bawah: Artikel — by auliahazza @ 10:07 am

Gundolo Sosro
Source : Buletin Al Sofwah
Buletin Online Pekan 4 Rajab 1424 H

Secara umum, orang merasa senang dengan banyak teman. Manusia memang tidak bisa hidup sendiri, sehingga disebut sebagai makhluk sosial. Tetapi itu bukan berarti, seseorang boleh semaunya bergaul dengan sembarang orang menurut selera nafsunya. Sebab, teman adalah personifikasi diri. Manusia selalu memilih teman yang mirip dengannya dalam hobi, kecenderungan, pandangan, pemikiran. Karena itu, Islam memberi batasan-batasan yang jelas dalam soal pertemanan. Memilih Teman Yang Baik

Teman memiliki pengaruh yang besar sekali. Rasulullah bersabda, “Seseorang itu tergantung agama temannya. Maka hendaknya salah seorang dari kalian melihat siapa temannya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi). Makna hadits di atas adalah seseorang akan berbicara dan ber-perilaku seperti kebiasaan kawannya. Karena itu beliau Shalallaahu alaihi wasalam mengingatkan agar kita cermat dalam memilih teman. Kita harus kenali kualitas beragama dan akhlak kawan kita. Bila ia seorang yang shalih, ia boleh kita temani. Sebaliknya, bila ia seorang yang buruk akhlaknya dan suka melanggar ajaran agama, kita harus menjauhinya. Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, “Jangan berteman, kecuali dengan orang mukmin, dan jangan memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa.” (HR. Ahmad dihasankan oleh al-Albani). Termasuk dalam larangan di atas adalah berteman dengan pelaku dosa-dosa besar dan ahli maksiat, lebih-lebih berteman dengan orang-orang kafir dan munafik.

Khathabi berkata, “Yang dimaksud dengan jangan memakan makananmu, kecuali orang yang bertakwa adalah dengan cara mengundang mereka dalam suatu jamuan makan. Sebab jamuan makan bisa melahirkan rasa kasih sayang dan cinta di antara yang hadir”. Adapun makanan yang memang dibutuhkan oleh mereka, maka tidak apa-apa diberikan. Allah berfirman, artinya, “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.” (QS. Al-Insan: 8 ). Dan yang ditawan bisa saja adalah orang-orang kafir.

Demikian juga dalam pergaulan yang sifatnya umum seperti bertetangga, jual beli dan sebagainya, maka hukumnya masuk dalam hukum mua-malah, di mana kita boleh bermuamalah dengan siapa saja, muslim maupun non muslim.

BELAJAR DARI AWAN

Diarsipkan di bawah: Artikel — by auliahazza @ 9:55 am

Hari itu satu pekan panjang yang penuh dengan kesibukan mengajar keliling negeri telah kulewati sekali lagi. Seperti biasa aku ingin menikmati situasi santai dalam penerbangan ulang, membaca yang ringan-ringan, bahkan memejamkan mata beberapa menit bilamana sempat. Kendatipun demikian, aku mencoba menerima apa pun yang akan terjadi.

Maka biasanya aku mengucapkan doa pendek berikut: Siapa pun yang Kautakdirkan duduk di sebelahku, biarlah ia seperti apa adanya, dan bantulah aku agar dapat menerima apa pun yang tersedia bagiku.

Pada hari yang khusus ini, ketika aku masuk ke dalam pesawat, ternyata seorang anak kecil, sekitar delapan tahun, duduk pada kursi dekat jendela disebelahku. Aku menyukai anak-anak. Namun, aku sedang merasa lelah. Naluri pertamaku adalah, ‘Apa boleh buat, aku tak tahu nasibku kali ini’. Dengan berusaha bersikap ramah, aku menyapanya dan mengajaknya berkenalan. Ia menyebutkan namanya, Bradley. Kami langsung mengobrol dan, hanya dalam beberapa menit, ia menaruh kepercayaan kepadaku, dengan berkata, “Ini pertama kali saya naik pesawat. Saya agak takut.”

Ia bercerita kepadaku bahwa ia dan keluarganya baru menjenguk sepupu-sepupunya, dan ia diminta tinggal lebih lama sedangkan orangtuanya pulang terlebih dahulu. Kini ia pulang sendirian, dengan pesawat terbang.

“Naik pesawat itu keciiil,” kataku, berusaha menumbuhkan keyakinannya. “Mungkin dapat dianggap salah satu yang paling mudah di antara yang pernah kaulakukan.” Aku diam sejenak, untuk berpikir, dan kemudian aku bertanya kepadanya, “Pernahkah kau naik roller coaster?”
“Saya senang naik roller coaster!”
“Pernahkah kau menaikinya tanpa berpegangan?”
“Oh, ya. Saya seneng sekali.” Ia tertawa. Sementara aku berpura-pura ketakutan.
“Pernahkah kau naik di depan?” tanyaku lagi dengan wajah pura-pura merasa ngeri.
“Ya. Saya selalu berusaha mendapatkan tempat duduk paling depan!”

“Dan kau tidak merasa takut?”
Ia menggelengkan kepalanya, tampaknya ia kini telah merasa berhasil mengimbangi aku.

“Sesungguhnyalah, penerbangan ini tidak seberapa dibanding naik roller coaster. Aku tidak berani naik roller coaster, tapi aku tidak takut sama sekali bila naik pesawat terbang.”

Seulas senyum mulai tampak pada wajahnya, “Betulkah itu?” Aku dapat melihat bahwa ia mulai berpikir bahwa mungkin ia memang pemberani.

Pesawat mulai ditarik menuju ke ujung landasan. Dan ketika akhirnya pesawat itu meluncur naik, ia memandang ke luar jendela dan mulai bercerita dengan sangat bersemangat tentang segala yang dialaminya. Ia mengomentari bentuk-bentuk awan yang dilihatnya, dan gambar-gambar yang seolah-olah telah dilukis di angkasa. “Awan yang ini seperti kupu-kupu, dan yang itu kelihatan seperti seekor kuda!”

Tiba-tiba, aku juga melihat melalui mata seorang anak usia delapan tahun. Rasanya seolah-olah aku baru pertama kali itu terbang.

Belakangan Bradley bertanya tentang pekerjaanku. Aku bercerita tentang pelatihan yang kuselenggarakan, dan mengatakan bahwa aku juga membintangi iklan untuk radio dan televisi.

Matanya langsung bersinar. “Saya dan adik saya pernah menjadi bintang iklan televisi.”

“Oh, ya? Bagaimana rasanya?”

Ia bercerita bahwa pengalaman itu sangat mengesankan.

Kemudian ia berkata bahwa ia perlu ke kamar kecil.

Aku berdiri agar ia dapat keluar ke gang. Saat itulah aku melihat alat penguat pada kedua kakinya. Bradley beringsut-ingsut menuju ke kamar kecil di belakang.

Ketika ia duduk kembali, ia menerangkan, “Saya menderita distrofi otot. Adik perempuan saya juga – ia bahkan harus memakai kursi roda. Itu sebabnya kami menjadi bintang iklan. Kami dijadikan contoh untuk anak-anak yang menderita
distrofi otot.”

Waktu pesawat mulai turun, ia memandang kepadaku, tersenyum, dan bicara dengan nada yang agak-agak malu, “Tahukah Anda, saya betul-betul khawatir tentang siapa yang akan duduk di sebelah saya di pesawat. Saya takut ia orang yang ketus, yang tidak mau bicara dengan saya. Saya senang bisa duduk bersebelahan dengan Anda.”

Ketika mengenang seluruh pengalaman itu pada malam harinya, aku diingatkan tentang untungnya bersikap terbuka. Setelah sepekan penuh menjadi pengajar, begitu selesai aku justru menjadi siswa.

Sekarang setiap kali aku merasa suntuk – dan itu cukup sering – aku memandang ke luar jendela dan mencoba menebak bentuk awan yang terlukis diangkasa. Dan aku teringat dengan Bradley, anak istimewa yang mengajariku pelajaran itu.

Sumber: Joyce A. Harvey – Chicken Soup for the Unsinkable Soul
Kiriman : o_tea

Didukung oleh WordPress.com